ABDI Mengajak Lansia Lebih Memahami Kesehatan Telinga di Confidence AESF 2018 Bali

Regional Manager PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI), Chandra T. Fery, saat berbincang dengan salah satu Lansia, di acara ASLI Expo dan Senior Festival 2018 di Bali.

DENPASAR, senior.id – Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI) mengajak para lansia untuk lebih memahami kesehatan telinga, hal ini disampaikan Regional Manager PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI), Chandra T. Fery, di Inna Bali Herritage, Denpasar (14/7/18).

Kehadiran ABDI di ASLI Expo dan Senior Festival (AESF) 2018 di Bali ABDI membuka mata masyarakat khususnya para lanjut usia (lansia), bagaimana kesehatan telinga sangat penting seperti organ tubuh yang lain.

Sebagai perusahaan yang concern terhadap permasalahan pada pendengaran ABDI merupakan perusahaan terbesar di Asia Tenggara, di mana ABDI telah berkembang di beberapa Negara antara lain, Singapura, Malaysia dan Indonesia.

Chandra, menjelaskan dari gelaran AESF 2018 di Bali, pihaknya melihat banyak sekali masyarakat masih minim mendapatkan informasi tentang kondisi mendengar yang seharusnya. Mereka hanya selalu memiliki kecemasan yang berlebih tetapi tidak menemukan solusinya. Secara luas untuk melakukan pemeriksaan telinga minimal satu kali dalam satu tahun

“Seperti yang tadi kita juga banyak melakukan pemeriksaan pendengaran dan juga dengan menggunakan Video Photoscopy, di mana peserta bisa melihat langsung kondisi liang telinganya. Bahkan, sampai ke gendang telinga pasien. Jadi mungkin dapat diketahui kondisi yang mengganggu dalam kondisi dengar dari pasien itu sendiri,” jelasnya.

Lebih jauh, dirinya mengharapkan berdasarkan dari hasil survey yang dimilikinya, penduduk dengan gangguan pendengaran sangat besar, tetapi untuk mendapatkan penanganan secara professional masih kurang.

“Kita berharap dengan adanya acara seperti ini kesadaran menjaga kesehatan pendengaran itu akan menjadi amat penting. Diutamakan juga karena dampaknya sangat luar biasa karena mengganggu. Sangat simple yang sudah kita jelaskan bahwa, mata atau gangguan kesehatan yang lain sifatnya kritis. Gangguan kesehatan mata dapat diketahui dari permaslahan penglihatan yang tidak jelas. Tetapi untuk gangguan pendengaran masalahnya tidak kritis tetapi dampaknya sangat fatal, karena tidak bisa didengar, tidak bisa dirasakan dan tidak bisa dilihat dari luar,” ujarnya.

Dia, menambahkan bagi seseorang yang mengalami gangguan pendengaran cenderung menutup diri, depresi dan mudah marah. Kalau misal melihat pasien atau mengajak ngonbrol dengan suara yang pelan, mungkin mereka akan mendapatkan respon yang sangat kecil Tetapi ketika mengajak ngobrol dengan suara tinggi, pasien cenderung gampang emosi karena merasa dibentak.

“Nah ini akhirnya terjadi miss komunikasi. Karena ganggunan pendengaran dapat menjadi fatal karena gangguan kehidupan sehari-hari. Komunikasi begitu penting, karena jika pendengaran terganggu akan mempengaruhi komunikasi secara keseluruhan,” terangnya.

ABDi saat ini sudah tersebar di seluruh kota besar di Indonesia, gunanya untuk menstandartkan operasional pemeriksaan pendengaran. “Jadi kapalidan dan kauratan sama dengan seperti yang biasa dilakukan di luar negeri. Selain itu juga ternyata dampak gangguan pendengaran kondisi pasien sangat mengganggu kualitas pendengaran seseorang,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here