Kemensos Berharap Jumlah Hunian Ramah Lansia Berkembang

Kepala Seksi Pemetaan dan Analisis Subdit Sumber Daya Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial Heru Sutopo (baju batik) saat melakukan tanam buah didampingi oleh Ketum ASLI Marlin Marpaung (tengah) dan sponsor utama AESF 2018 (Confidence), dengan berlatar Hunian Senior Living D'Khayangan, Jababeka, Cikarang.

CIKARANG, senior.id – Di ajang Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) Expo dan Senior Festival 2018, Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) berharap jumlah hunian ramah lanjut usia (lansia) terus berkembang. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Pemetaan dan Analisis Subdit Sumber Daya Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial Heru Sutopo.

Heru, mengapresiasi kegiatan AESF 2018 dengan kegiatan yang melibatkan para lansia. Dalam kebijakan Kemensos, para lansia tidak mampu (ekonomi rendah) diberikan berbagai program, begitu juga dengan para lansia ekonomi menengah dan atas, tentunya dengan program yang berbeda.

“Yang paling banyak bagi para lansia yang kurang mampu. Untuk kalangan ini tentunya negara harus hadir,” ujarnya menjawab redaksi senior.id, di D’Khayangan Jababeka Cikarang, (29/9).

Lebih jauh, dirinya mengungkapkan bahwa ada hunian yang diperuntukkan bagi para lansia di seluruh wilayah tanah air. Tentunya hunian tersebut ramah demgan para lansia. Sekitar 40 hunian tercatat, yang harapannya akan terus berkembang dengan kebutuhan yang ada.

“Kami sangat berharap ASLI bersama dengan para pelaku usaha, bisa membangun hunian yang ramah lansia terutama dari sisi fasilitas karena lansia dari segi kesehatan sudah mengalami penurunan. Dari segi ini, tentunya huniannya akan berbeda dengan hunian lain,” ungkapnya.

Terkait dengan angka lansia di Indonesia, dirinya menjelaskan lansia di Indonesia telah mencapai angka 28 juta. Sekitar 11% tidak mampu, baik dari segi ekonomi, terlantar, serta kemampuan psikis yang bermasalah.

“Yang ditangani oleh Kemensos sekitar 30 ribu di 34 provinsi. Tapi masing-masing wilayah berbeda. Wilayah Jawa Barat ada sekitar 2 ribu lansia,” jelasnya.

Dirinya menegaskan, bahwasannya permasalahan lansia memang tidak bisa seluruhnya ditangani oleh pemerintah pusat. Namun, dituntut juga antisipasi dari pemerintah daerah dan sektor swasta.

“Bagi mereka yang memiliki perekonomian memadai, mereka bisa mengikuti program day care service atau program layanan antar jemput minimal 2 jam dan maksimal 8 jam. Program ini sudah banyak dilakukan oleh Kemensos hampir di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

“Ke depan kita bisa bekerjasama. Kami mendukung dalam hal pembinaan bagi para lansia,” tandasnya. (Senior)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here